Tampilkan postingan dengan label speak up. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label speak up. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

the way you act is the way you think

tulisan ini lebih seperti motivasi terhadap diri sendiri :)

Perubahan pada kehidupan pasti akan terjadi, entah terjadi secara natural dan memang sudah seharusnya atau perubahan karena tuntutan keadaan yang biasanya bersifat paksaan hingga perubahan yang terjadi karena ditimbulkan oleh suatu dorongan yang dinamakan keinginan. Semuanya tergantung pilihan dan tindakan yang kita lakukan. Perubahan memang tidak selalu harus dilakukan tapi tanpa perubahan tidak akan pernah ada pertumbuhan, pelajaran, pengalaman dan kesempatan yang mampir datang.

Perubahan ibarat pintu yang jika kita berani membuka, maka diluar sana akan banyak keadaan yang akan menyeret kita ke arah perbaikan. Melalui perubahan, kita belajar mentransformasikan diri menjadi sesuatu atau mewujudkan kondisi yang kita ingini dengan tujuan menjadi lebih baik di masa akan datang. Jika kita tidak mendobrak pintu itu dan tetap bertahan terdiam di ruang nyaman, maka kita hanya akan menjadi seseorang yang begini-begini saja, yang jika digambarkan dengan grafik maka kehidupan berjalan stagnan tanpa hentakan dan kejutan. Memulai sesuatu memang hal yang paling sulit karena dapat dipastikan kita akan selalu mempertimbangkan banyak hal, untung rugi atau resiko apa yang kira-kira akan kita hadapi. Tidak ada yang salah dengan namanya perhitungan tapi perhatikan, jangan sampai kita pada akhirnya tertukar antara kehati-hatian dan keraguan. 

Are you love Indonesia? Really?

Nasionalisme, sebaris kata yang mungkin sudah tidak asing ditelinga kita, namun bila diminta mendeskripsikan, sebagian besar pasti merasa kesulitan. Beberapa mungkin malah merasa itu sebaris kata basi dan bertingkah tidak perduli. Padahal apa ruginya membangun lalu mengisi satu ruang kosong di hati agar nasionalisme tertanam mati. Toh negeri ibu pertiwi ini sudah memberikan banyak  manfaatnya yang kadang lupa untuk kita syukuri. Sebagian mungkin malah mengidentikkan nasionalisme dengan demonstrasi atau malah teriakkan perjuangan ditengah jalan. Itu hanya salah satunya, jika kalian tidak suka dengan cara mereka, jangan malah membuang muka. Ciptakan jalan dengan cara kalian, tunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan bersikap antipati, Indonesia masih butuh kita dan bagaimanapun kita terlahir tercipta di tanah ini.

Jelas bahwa nasionalisme merupakan pilar hati yang harus dimiliki oleh setiap generasi agar kita tidak berhenti perduli dan tetap mencintai negeri ini. Subjek yang paling tepat untuk menanamkan dan menyebarkan rasa nasionalisme adalah mahasiswa. Oleh karena itu, saat mendengar penjelasan Pak Posma bahwa salah satu sasaran dari IT Telkom pada poin ketiganya adalah tentang nasionalisme, saya merasa bangga. Karena, seperti apa yang dikatakan Pak Posma, mungkin baru IT Telkom saja universitas yang memasukkan hal berbau nasionalisme sebagai landasan sasaran kegiatannya.

Jumat, 30 Maret 2012

Penyimpangan Makna

Setiap headline surat kabar baik digital maupun tidak mengabarkan bahwa hampir setiap kota di Indonesia terjadi demonstrasi beberapa hari ini. Begitupun yang terjadi dengan kota asal saya, Samarinda-Kalimantan Timur. Semua satu suara, semua mengemukakan hal yang sama: MENOLAK BBM NAIK!
 
Saya bukannya nggak setuju dengan tujuan dan maksud demonstrasi mereka. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya tidak sesuai dengan sudut pandang saya. Oke, sebelum saya berbicara panjang kali lebar mengenai apa yang saya pikirkan, selanjutnya saya lebih suka menyebut kata demonstrasi ini menjadi aksi :)
 
Pos polisi yang terbakar, Samarinda

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya bukannya tidak setuju dengan tujuan aksi teman-teman mahasiswa. Tapi yang saya kecewakan adalah CARA mereka. Iya cara mereka, yang bisa saya sebut dengan sangat amat yakin sebagai gerakan ANARKIS dan VANDALISME.



Demo Mahasiswa, pembakaran pos polisi di Samarinda

Apa yang mereka lakukan sesungguhnya malah menyebarkan gerakan bernuansa negatif. Jauhhhhh sekali dari tujuan awal sebuah aksi yang sesungguhnya ingin menyebarkan dan mengobarkan aura perjuangan. Saya jadi bertanya-tanya melihat tingkah mereka. Apa harus begitu caranya?. Apa cuma itu yang kalian bisa?. Apa itu caranya menunjukkan bahwa kalian perduli dan cinta Indonesia?.
 
Kenapa harus melakukan kekerasan agar didengarkan?. Apa nggak ada cara lainnya, selain membakar, merusak dan berteriak-teriak memaki. Apa yang mereka lakukan justru merusak image mereka sebagai seorang mahasiswa, yang notabene di cap sebagai insan  cerdas penerus bangsa.