Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

Sekian kali

Allah.. Aku yakin betapa Engkau Maha Mengetahui.
Engkau pun tahu pasti betapa lelah ini menyelimuti hati. Aku terlalu letih.
Terlalu lama aku tertatih, bangun, terjerungkup lagi lalu berusaha berdiri bahkan berlari.

Allah.. Berapa kali lagi aku harus  melafalkan hal yang sama.
Betapa aku tidak ingin lg meminta dn menuntutMu atas doa2 kebahagiannku.

Allah.. Aku masih menunggu segala penjabaran. Masih menanti benang-benang korelasi menjalinkan segala hikmah yang aku cari. Makna dan maksud semua ini.

Allah.. Jika memang segala hal ini tak ada manfaatnya, maka jangan biarkan mengendap hingga bermuara menjadi harap.

Allah.. Sudahi. Aku tak kan pernah ingin memelihara sesuatu yg menyiksa.

Allah.. Cukupkan jika selayaknya ini menyakitkan dn menghambat masa depan.

-april

Rabu, 22 Januari 2014

Mengetahuiku

Tanpa kamu sadari.
Hanya padamu aku membuka hati.
Menunjukkan jati diri.

Segala kelemahan. Segala tangisan.
Segala rasa-rasa yang kusimpan segenap jiwa, yang tlah kujadikan rahasia sekian lama.
Hingga aku terlihat dewasa, terlihat kuat menghadapi segalanya.

Itulah aku. Itu yang mereka tahu.
Tapi itu bukan aku. Bukan diriku.

Sebenar-benarnya aku, sedalam-dalamnya hatiku.
Saat aku berdiri didekatmu.
Terdekap erat di dadamu, menangis di hadapanmu..

Dan aku tak pernah malu.
Karena itu kamu.
Satu-satunya yang kupersilahkan mengenalku.
Menjelajahi hidupku.
Menelusuri hatiku. 
Merubuhkan tembok 'kepalsuanku'.
Mengetuk pintu 'dimensiku'.

Mengetahuiku. Menghadapi sifatku.
Mungkin itu melelahkanmu.
Maafkan aku..

Karena itu.
Biarkan aku begini. Biarkan aku terus seperti ini.
Aku memilih diam. Biarkan aku menyimpan.

Karena yang akan ku katakan, yang kini aku pikirkan.
Tak kan ada kata-kata yang pantas menyampaikan.
Tak kan bisa menggambarkan yang kurasakan.

Tanpa membuat segalanya menyakitkan atau mempermainkan kesabaran.

-April

Sabtu, 27 April 2013

Seperti ini?

Saat kubiarkan segala amarahmu menjadi satu-satunya cara untuk menebus luka.
Saat aku memasrahkan fakta pada waktu didepan sana.
Saat rinduku berwujud menjadi untaian asa agar kamu bahagia.
Saat aku hanya mengelus dada dan berkata 'ya sudahlah' atas segala keacuhan yang ada.
Saat sedih dan legaku terjebak dilema ketika melihatmu mulai merasa biasa dengan segala hal tentang kita.
Saat di sela tangisku mulai terselip doa agar kamu tak seterpuruk yang aku rasa.
Saat kubersyukur hanya bisa 'menyapa' dan tak berharap secuil perdulimu menghampiri duka.

Apa memang seperti ini semua proses yang ada saat hati kita berlandaskan tulus yang luar biasa?

Rabu, 03 April 2013

Mencoba

Aku hanya sedang belajar mendeskripsikannya secara tepat.
Menguraikannya dengan benar.
Sebut aku takut. Sebut aku ragu.
Mungkin kamu belum tahu bahwa segala hal ini hampir 'membunuhku'.
Membuat lumpuh sebagian jiwaku.
Merobotkan ragaku.
Dilema mengekangku. Mencampur resah rasaku. Dipenjarakan traumaku.
Aku mencoba!
Tlah kugedor realita. Kutampar diri dengan nyata.
Tapi sungguh semua melebihi daya yang kupunya.
Aku kehabisan upaya..


Januari 2013

Senin, 11 Maret 2013

Samar

entah sejak kapan mengingat menjadi kegiatan menakutkan
jelas disini ada luka yang yang menjelma semenjak kita tak lagi ada
jika sudah meninggalkan luka
mengapa kenangan bermultifungsi melarutkan tawa
hingga aku hampir lupa icip bagaimana itu bahagia
serta buncahannya yang menyeruak riang di dada
tak ada lagi yang lebih rahasia dari sebuah rasa yang terkunci semenjak kesepakatan membunuh harapan
membuahkan pencetusan sebuah perpisahan
masing-masing dari kita dengan yakinnya melafalkan dengan jelas intonasi kesendirian
walau kita sama tahu bahwa kesepian selalu butuh teman
tak ada lagi yang sanggup ku jelaskan
sebab kau begitu fasih mengeja kesalahan
hingga sanggup mengunci setiap kata yang bahkan belum sempat kurangkaikan
tanganku kaku, kugenggam lirih rindu
tak ada yang sanggup membendung amarahmu, tak jua pelukku
samar kubaca kasih itu yang terkunci kelu dihempas kecewamu
sungguh bukan mau ku
tak sanggup kata juga air mata menjelaskan segala
biarlah fakta berjelaga
hingga suatu saat bermuara ditepian tenangmu
mewujudkan pemahaman walau semuanya tlah terlewatkan
biar ini tersimpan, dikemas pilu terikat rindu
walau membuat kita memerah tak berarah serta terombang ambing pasrah

hanya saja, serahkan waktu bergumul dengan luka 
hingga memetamorfosakan kesedihan menjadi sekedar tertawaan di masa depan
jauh dari luka. terbelunggu jauh dari asa.
rela.


Bandung yang mendingin sehabis hujan,
11 maret 2013

Beginilah hujanku

terik itu perlahan sirna
mendung memenangkan pergumulannya
mendorong cahaya matahari hingga ia bersembunyi
disekap awan
sementara ia menjadi tawanan, dikalahkan hujan

beginilah hujanku..
tanpa peringatan, tanpa kilatan
suara keroyokan hujan berjatuhan
memandikan semesta
membasuh tanah yang berdahaga
lalu menguap, mengeluarkan aroma

kebisingan tetesan hujan
tak jua mempurnakan kegaduhan kenangan yang mengetuk kerinduan
berusaha menyeretnya dari pelarian ke masa depan

beginilah hujanku..
bagaimana disitu?
apa kau pasrah atau menggerutu?

payungku basah
perlahan aku menengadah, menantang langit yang mulai tampak remang
hujan tak jua menjadi ramah
entahlah apa yang membuatnya begitu marah
memuntahkan berkubik-kubik air yang berjatuhan pasrah

beginilah hujanku..
sama kah langit yang kita tantang?
atau kah kamu hanya sedang terduduk diam
menikmati setiap alunan yang hujan ciptakan?

aku menikmatinya
membuatku tanpa sadar mendendangkan kerinduan
yang entah frekuensinya seirama atau tidak denganmu

biarlah kali ini saja tidak kulawan
tak jua kumuntahkan tangisan
biarlah cukup hujan mewakilkan
mengungkapkan segala perasaan yang rapi tersimpan

hujan, kenangan
bersenandung riang
kerinduan itu lebam dan kedinginan

beginilah hujanku..
apa tak jauh beda denganmu?


Bandung, ditemani gemuruh hujan serta segumpal kerinduan
11 maret 2013

Sabtu, 05 Januari 2013

Sebelum kamu datang, aku tidak pernah tahu kalau aku bisa sepenakut ini.

Sabtu, 29 Desember 2012

Ruang

dua puluh sembilan, mendekati penghujung bulan
si Desember sudah tidak sabar melakukan penutupan
memberikan epilog kehidupan
mempersilakan setiap orang melakukan perayaan atau perenungan
proyektor otak siap bekerja keras memutar setiap kilasan
mengajak bermain dengan kenangan
bercengkrama dengan perasaan

ahh..
setahun yang telah terselesaikan
setahun yang dengan tertatih berhasil terlewatkan
setahun yang mengecewakan
setahun yang melegakan

kebahagiaan, kesedihan. siapa yang bilang mereka abadi?
tenang saja, mereka berebut untuk unjuk diri
tak kan selamanya mendominasi

dan untukku masih banyak yang bersisa
PR untuk masa depan tepatnya 
salah satunya tentang ruangan yang tampak usang
tergerus ketidakpedulian yang merupakan eksistensi dari pertahanan

ruangan itu masih berantakan
satu yang datang hanya makin menghancurkan
si bodoh ini mengijinkan

lalu saat si satu pergi, bodoh ini tertatih lagi
mengutuk diri
menyumpahi segala yang terjadi, mencaci maki
umpatan tak berarah
hanya luapan, hanya ungkapan
tak tertujukan

jangan dilupakan, si bodoh lah yang mengijinkan si satu bermain dengan ruangan yang masih berantakan
dengan harapan satu akan mengulurkan tangan, memberi bantuan, berniat membereskan
kesalahan! si satu nomaden rupanya
berpindah sesuka hatinya, bersikap seperti cuaca
apapun tak disyukurinya...

ruangan itu masih berantakan
kenangan memantul-mantul dengan riang
mengajak kerinduan membuat kegaduhan
agar kepedulian datang
dan membuat segala pertahanan kembali ke titik awal

ini tentang si dulu, bukan satu
si dulu yang hebat
hingga memberikan 'kehancuran' yang lebih dahsyat
segala luka yang tak terlupa
serta bahagia yang masih hangat tanpa cela

bertahun-tahun lamanya ruangan ini dihuni
bagaimana tidak hapal tingkah empunya
bagaimana tidak terekam dengan baik disetiap sudutnya

aku kesulitan disini
kerepotan sendiri

ini tanggungan, ini beban

kenangan. kerinduan. tumbukan perasaan.
bergantian.
mengaduk ketenangan, mempermainkan kesepian.

mana ujungnya? mana akhirnya?
sungguh ini memuakkan
melelahkan.
melemahkan.

akhiri. sudahi.
temukan titiknya. 
agar epilog tertutup rapi
lalu segala kenangan terisolasi..

Senin, 05 November 2012

tumbukan perasaan, tabrakan antar kenangan, pagi yang memuakkan.

Tersekap

tak tau apakah aku sanggup bertahan esok hari
dalam keadaan seperti ini
ketika kepercayaanku tlah mati
 
tak tau lagi untuk apa aku disini
semua mimpi terkubur luka hati
 
perlahan dan pasti
bahagia beranjak pergi

jauh kudekap, ditepis sunyi mencercap
tak sedikitpun aku bergerak
tinggalkan penantian yang tersekap
 
sebuah batas rindu yang menyekat
trauma yang menyayat
pasrahkan diri dalam sedih meratap
 
helaan napas
tak ingin ku memelas
 
mencoba terlihat kuat
walau jiwaku sekarat


modifikasi puisi dari jaman SMP buatan saya dan sahabat saya, DK.

Selasa, 30 Oktober 2012

tolong tunjukkan cerah. aku mulai lelah.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Karena-Nya

Untuk kamu yang (akan) aku cintai.

Semoga kita dipertemukan memang dengan jalan-Nya
Sungguh karena ijin-Nya

Siapapun kamu, apapun kamu
Tunjukkanlah kesungguhan itu
Karena aku akan menerimamu
Bagaimanapun dirimu..

Untuk kamu yang sekarang entah dimana dan bersama siapa.

Persiapkan diri kita
Dekatkan diri pada-Nya

Karena bagaimanapun dirimu
Aku hanya ingin kamu membimbingku
Untuk lebih menyayangi-Nya
Dan mencintaimu karena-Nya..

Untuk kamu yang (akan) ditakdirkan untukku.

Aku tak bisa bilang aku yang terbaik untukmu

Tidak dengan kata
Tapi sungguh aku akan menunjukkannya
Biar cukup rasa yang menjelaskannya

Untuk kamu yang aku tunggu.

Cinta ini sederhana
Hanya saja efeknya sedemikian dahsyatnya

Bukan karena aku perempuan istimewa
Atau kamu lelaki luar biasa

Terlebih karena ini cinta dari-Nya
Sungguh karena-Nya..


Bandung, 27 oktober 2012
untuk kamu, masa depanku..

Minggu, 21 Oktober 2012

Dan Jika

Jika aku punya kursi nyaman untuk bersandar dan secangkir kopi untuk berbagi.
Maukah kamu menemani hingga senja mulai menepi?

Jika aku punya serpihan hati, berserakan tak menentu.

Maukah kamu menatanya lembut dengan caramu?

Jika aku punya sejuta cerita untuk kubagi, namun tidak hari ini ataupun saat yang pasti.

Maukah kamu tetap menunggu untukku?

Jika aku tak punya banyak waktu, namun yang aku mau hanya satu, denganmu.

Maukah kamu berlari untukku?


by: -Laluluvie

Selasa, 09 Oktober 2012

live your life

hmm ini sudah kesekian kalinya
kubiarkan rasa berjelaga
dan akhirnya sewujud tanda tanya yang muncul disana

bukan pesimis, tidak juga optimis
tidak pernah berusaha menipis
sikapmu yang mengikis

jika realita menjegal kita
mungkin harapanlah yang terlalu melangkah jauh
membendung keluh..

hatiku sudah kelu, rasa itu beku
ini bukan lagi kita yang dulu

jangan biarkan sesal mengekang asa
menjerat logika, menghempas bahagia, membunuh rasa
hanya karena biasa bersama

mungkin 'kita' bukan jawabnya
masih banyak lembar yang belum dibuka
kemungkinan selalu ada

lalu knp berhenti?
seolah ini hari terakhir di bumi

km masih pantas bermimpi dan tak mungkin sendiri..

Selasa, 02 Oktober 2012

Just Leave

Pernah kah kamu tahu bahwa aku slalu berlari?
Pernah kah kamu tahu bahwa aku mati-matian memendam ini?

Untuk bertahan agar tidak terjatuh begitu dalam
Aku berhenti bermain dengan kenangan
Menghentikan segala cuplikan

Aku telah melalui masa sepertimu, jatuh seperti itu..


Jika sekarang kamu menatapku seolah bahagia
Maka jangan lupa, bahwa ada usaha dibaliknya
Bahwa ada air mata yang tumpah entah berapa ratus kubik jumlahnya
Serta luka yang tidak pernah mengering begitu saja
Dan untuk mengobatinya aku berusaha amnesia, seolah tak pernah ada


 
Apa kamu tahu berlari darimu itu tak pernah mudah?
Lalu aku harus berbalik arah?

Pernahkah kamu ingat sayang?
Aku tidak pernah memaksakan
Aku tidak pernah memohonmu mengatakan, menyatakan yang tidak pernah bisa kamu buktikan

Hh...jangan pernah menjanjikan
Jika tak ingin dihujani dengan tuntutan
Lihat sekarang siapa yang kelelahan
Yang menuntut untuk diyakinkan dengan posisi seharusnya membuktikan

Jika ingin pergi dari sini
Jika tak cukup kuat lagi menanti
Jangan pernah minta aku kembali

Berlarilah, tinggalkan..
Tanpa banyak alasan seolah tak tersalahkan

Biar aku kecewa, cukup tahu sejauh mana makna kata-kata yang terucapkan
Bahwa tidak semuanya berbalut kesungguhan
Hanya lah sekedar ketakutan untuk kehilangan dan tertinggalkan

Selamat jalan..

Minggu, 01 April 2012

they aren't YOU!

Got a called from two person a while ago..

they tried to find out my condition 
always want to get my attentions

tried hard to make me smile
and i know, they hope i'll interested with that conversations
i don't care..

they still try
they don't want give up

really appreciate their efforts
but sorry, i can't
i still don't care baby..

because that's all means nothing for me..
because they aren't YOU!

YOU.
A simple reason, why i can't smile because of them..

Jumat, 30 Maret 2012

Juni 2011: Tidak untuk dikenang (lagi)

Buat apa ada kata-kata jika itu hanya membuat luka.
Apa segitu susahnya menyampaikan apa yang kita rasa?

Apa yang harus dilakukan untuk menyampaikan perasaan?

Mengatakannya sesuai harapan.
Knp? knp nggak pernah ada yang paham?

Aku tahu. Sangat tahu. Sungguh-sungguh tahu.

Bahwa nggak akan ada yang benar-benar paham.
Karena itu.
Aku memilih diam, aku nggak pernah mengatakan.
Aku membisu. Menyudut membeku dalam dimensiku.

Aku nggak pernah meminta ada yang mengerti.

Karena itu.
Aku hanya menyimpannya dalam hati.
Membiarkan mimpi-mimpi itu pergi. Terkubur pada kedalaman yang tak terjangkau lagi.

Setelah itu aku (berusaha) lupa. Dan pasti (berusaha) tanpa luka.


Aku memang begini.

Sendiri. Sepi. Dan mandiri.

Aku memang begini.

Aku begitu takut disakiti dan menyakiti.

Karena itu.

Jangan memaksa. Jangan paksa aku untuk terbuka.

Aku trauma.
Benar-benar trauma.

Hingga aku tak bisa menjelaskan rasanya.
Hingga membuat kalian tak percaya.
Menyangka aku berlebihan, karena kalian tak akan PAHAM!

Karena itu.

Biarkan aku begini. Biarkan aku terus seperti ini.

Karena aku tak ingin kalian seperti dia.

Yang (mungkin) menemukan lelahnya setelah sekian lama berusaha mengerti dan memahami.
Dan akhirnya menyadari bahwa aku memang begitu sulit untuk ditelusuri.

Lalu aku kehilangan.

Segala pegangan. Semua dukungan.
Satupun tak dapat kutemukan.

Itu yang aku rasa!

Iya hanya aku.
Karena kata dia, dia sudah begitu berusaha mendukungku, mencintaiku.
Sepenuh hatinya, setulus jiwanya, selelah-lelah batinnya.

Aku tahu.

Bukan. Bukan itu maksudku.
Bukan menyalahkanmu. Apalagi mencari kekuranganmu.

Aku membisu.

Lagi-lagi aku terdiam.
Kali ini, terbungkam dalam tangisan.

Kenapa?

Aku harus bagaimana?
Apa yang aku rasa? Apa yang salah dari kita?

Aku hanya bisa bertanya.

Tak bisa menyampaikan yang aku rasa. Benar-benar yang aku rasa.
Hingga menyakitiku.

Aku terluka...


Tapi aku tahu, itu tak pantas aku katakan.

Karena itu juga yang kamu rasakan.

Aku begitu takut saat kita berbicara.

Saat kamu memintaku terbuka, ingin mengetahui apa yang aku rasa.
Karena aku tak bisa mengatakannya.

Bukan. Bukan karena tak percaya.

Hanya saja, aku tak ingin ada air mata.

Segala perasaan yang kita bicarakan.

Berujung perdebatan. Menghasilkan perkelahian.
Dan kita hanya terdiam.

Menahan gejolak amarah. Setiap rasa gelisah.

Air mata. Luka.
Lengkap rasanya segala trauma..

Aku tak kan memintamu. Tak kan menuntutmu.

Karena itu.
Jangan paksa aku lagi mengatakannya padamu.

Aku memang begini.

Begitu sulit dipahami.
Sejujurnya aku tak ingin sendiri. Tak ingin tanpamu jalani hari.

Tanpa kamu sadari.

Hanya padamu aku membuka hati.
Menunjukkan jati diri.

Segala kelemahan. Segala tangisan.

Segala rasa-rasa yang kusimpan segenap jiwa, yang tlah kujadikan rahasia sekian lama.
Hingga aku terlihat dewasa, terlihat kuat menghadapi segalanya.

Itulah aku. Itu yang mereka tahu.

Tapi itu bukan aku. Bukan diriku.

Sebenar-benarnya aku, sedalam-dalamnya hatiku.

Saat aku berdiri didekatmu.
Terdekap erat di dadamu, menangis di hadapanmu..

Dan aku tak pernah malu.

Karena itu kamu.
Satu-satunya yang kupersilahkan mengenalku.
Menjelajahi hidupku.
Menelusuri hatiku.
Merubuhkan tembok 'kepalsuanku'.
Mengetuk pintu 'dimensiku'.

Mengetahuiku. Menghadapi sifatku.

Mungkin itu melelahkanmu.
Maafkan aku..

Karena itu.

Biarkan aku begini. Biarkan aku terus seperti ini.
Aku memilih diam. Biarkan aku menyimpan.

Karena yang akan ku katakan, yang kini aku pikirkan.

Tak kan ada kata-kata yang pantas menyampaikan.
Tak kan bisa menggambarkan yang kurasakan.

Tanpa membuat segalanya menyakitkan atau mempermainkan kesabaran.

Karena itulah resiko keterbukaan, sayang...