Selasa, 25 Februari 2014

Happy birthday Mas Adi!


Anyway it's not always make me happy to have a brother like you. 
Because sometimes we argue, we fight. We even stop talking to each other at times. 
Yaa no family is perfect. But in the end family is family. The love will always be there. Just to remind you that we'll always support you whatever your condition :)

Happy birthday my awesome partner, friend and brother! \m/

Selasa, 11 Februari 2014

Sekian kali

Allah.. Aku yakin betapa Engkau Maha Mengetahui.
Engkau pun tahu pasti betapa lelah ini menyelimuti hati. Aku terlalu letih.
Terlalu lama aku tertatih, bangun, terjerungkup lagi lalu berusaha berdiri bahkan berlari.

Allah.. Berapa kali lagi aku harus  melafalkan hal yang sama.
Betapa aku tidak ingin lg meminta dn menuntutMu atas doa2 kebahagiannku.

Allah.. Aku masih menunggu segala penjabaran. Masih menanti benang-benang korelasi menjalinkan segala hikmah yang aku cari. Makna dan maksud semua ini.

Allah.. Jika memang segala hal ini tak ada manfaatnya, maka jangan biarkan mengendap hingga bermuara menjadi harap.

Allah.. Sudahi. Aku tak kan pernah ingin memelihara sesuatu yg menyiksa.

Allah.. Cukupkan jika selayaknya ini menyakitkan dn menghambat masa depan.

-april

Senin, 03 Februari 2014

Adakah yang Lebih Nyata dari Sebuah Kita?

Selamat sore sayang,

Semoga sayang kan tetap berada linimasa hari, berbahagia untuk semburat jingga di pelupuk langit senja. Sayang, aku merindumu. Kau tahu bukan? Surat ini kukirimkan untukmu seperti janjiku pada diri sendiri, setiap ganjil hari. Biarkan rindu yang menggenapi jeda diantaranya. Aku harap pun surat ini menjadi jawaban atas getirmu pada setiap malam.
Sayang, berhentilah tertawa jika hatimu yang kudapati sedang menangis di pojok ruang. Aku mengerti bagaimana kau menutupi pori per pori kesedihan yang berulang, dengan candaanmu yang menjulang. Tidak banyak yang bisa kubuktikan, bahwa kaulah satu-satunya lelaki yang kusayang. Tetapi, percayalah. Jika semesta kan selalu berputar pada porosnya, mengikuti hukum alam. Ikutilah alurnya hingga berporos pada sebuah kita. Percayalah, ada sebuah kita di sana!
Betapa aku mengerti kekhawatiranmu untuk sebuah kita. Meskipun waktu bukan menjadi pegangan kita, namun waktu pula yang terkadang mengganggu bahagia yang kita coba rangkai setiap harinya. Betapa kita saling mengerti bahwa kita telah lama mengenal jauh-jauh hari sebelum hari pertama pertemuan kita. Menyayangimu, seperti menyayangi orang yang telah lama kukenal. Nampaknya semesta mengkontradiksi atas kepercayaan kita untuk sebuah doa-doa; yang telah lama tak lagi kita percaya. Semesta mempertemukan kita sebagai dua anak manusia yang (pernah) tak lagi percaya akan cinta. Jawaban untuk setiap tanya masing-masing diri, ternyata saling mengenapi di senyum masing-masing bibir. Ah, sayang. Bagiku pertemuan kita bukanlah sebuah misteri, ini hanyalah sebuah suratan takdir di mana cinta memang harus berpulang pada masing-masing tuan. Dan sebuah kita, adalah rumah bagi masing-masing cinta.
Sayang, hapus sudah semua rinai hujan di pinggiran hati. Hatimu terlalu basah untuk kupijak. Bagaimana aku menari di dalamnya?
Hati-hati yang telah usang, tak mungkin layak untuk kembali bercinta. Tak usah hiraukan mereka yang datang diantara rintik-rintik hujan pada parkiran temaram sebuah malam penuh kenangan. mereka telah mati sayang. Datanglah ke pemakaman; di mana hati-hati yang telah membusuk kukuburkan. Seperti hukum alam rimba. Siapa yang terkuat, ia lah yang menang. Dan kau tahu persis, betapa mereka telah lama mati jauh-jauh hari sebelum pertautan cinta bertakdir atas nama sebuah kita.
Sayang, bukankah kita sama-sama kembali pada titik nol? Titik awal dari sebuah kebahagiaan; yang pernah jauh-jauh kita dustakan. Seperti seorang bayi yang terlahir suci. Sebuah kita adalah reinkarnasi sebuah kehidupan sakral yang menjadi penentu masa depan. Sadarkah kau sayang, betapa langkah kecil yang kita buat sekarang kan berpengaruh besar untuk masa yang akan datang?
Kau adalah sebuah kini yang ku tanam dengan hati-hati agar berbuah manis akan sebuah masa depan. Pupuk bernamakan cinta selalu kutabur tiap detiknya pada ladang sebuah kita, kuberikan air kehidupan bernama rindu agar tiada tandus berani menghampirinya. Dan aku percayakan matahari sebagai Tuhan untuk membiarkan ladang ini bersemi tiap musimnya. Tak perduli musim apa, bagiku ladangku ladang yang kuat. Tak kan mengenal layu dalam sebuah musim.
Sayang, aku bukanlah wanita yang bodoh mengorbankan sebuah masa depan untuk sebuah masa lalu; yang kutahu telah lama mati di pemakaman sebuah desa bernama kenangan. Aku tak kan membiarkan diri terhanyut jika tak berhilir padamu. Bukan pula wanita bodoh yang percaya akan sebuah bayang-bayang maya di belakang, jika nyata kutemukan tepat pada kedua bola matamu. Tepat di depanku. Aku melihatmu sebagai satu-satunya rumah yang kupercaya, untuk ku titipkan kebahagiaan pada masing-masing ruang. Dimana aku melihat sebuah kitapada beranda belakang rumah. Aku percaya, jika perlahan kuisi rumah itu, menikmati sore di beranda belakang rumah dengan segelas teh di tangan dan punggungku di pelukanmu, tak kan lagi sebuah mimpi belaka. Sebuah kita, sebuah masa depan yang nyata.
Sayang, jagalah dirimu baik-baik disana. Bosankah kau kuperingatkan, untuk menjaga investasi kebahagiaan masa depanku baik-baik? Aku tak kan pernah bosan mengingatan kau untuk menjaga rumah itu baik-baik. Tak usah lagi getir jadi buah bibir dalam permainan pikiranmu di halaman depan. Kau adalah tuan untuk hati yang kupunya. Sebuah masa depan yang nyata. Biarkan kau dan aku menjadi pondasi yang kuat untuk rumah sebuah kita, di masa depan. Jangan pernah biarkan hujan membawa masuk kenangan pada sudut-sudut jendela. Kunci rapat-rapat setiap sela yang mungkin menjadi lorong bagi parasit-parasit yang mencoba menghancurkan rumah sebuah kita.
Jika ragu masih menghiasi sudut-sudut ruang, tanyalah pada masing-masing diri, adakah yang lebih nyata dari sebuah kita?
Tertanda,
Wanita Sore.
By: @iitsibarani_

Selasa, 28 Januari 2014

Jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang

Sabtu, 25 Januari 2014

Kita hidup di zaman serba instan, di mana kata “malas” dan “ga sempat” selalu jadi andalan. 
-Diana Nurwidiastuti

Rabu, 22 Januari 2014

Mengetahuiku

Tanpa kamu sadari.
Hanya padamu aku membuka hati.
Menunjukkan jati diri.

Segala kelemahan. Segala tangisan.
Segala rasa-rasa yang kusimpan segenap jiwa, yang tlah kujadikan rahasia sekian lama.
Hingga aku terlihat dewasa, terlihat kuat menghadapi segalanya.

Itulah aku. Itu yang mereka tahu.
Tapi itu bukan aku. Bukan diriku.

Sebenar-benarnya aku, sedalam-dalamnya hatiku.
Saat aku berdiri didekatmu.
Terdekap erat di dadamu, menangis di hadapanmu..

Dan aku tak pernah malu.
Karena itu kamu.
Satu-satunya yang kupersilahkan mengenalku.
Menjelajahi hidupku.
Menelusuri hatiku. 
Merubuhkan tembok 'kepalsuanku'.
Mengetuk pintu 'dimensiku'.

Mengetahuiku. Menghadapi sifatku.
Mungkin itu melelahkanmu.
Maafkan aku..

Karena itu.
Biarkan aku begini. Biarkan aku terus seperti ini.
Aku memilih diam. Biarkan aku menyimpan.

Karena yang akan ku katakan, yang kini aku pikirkan.
Tak kan ada kata-kata yang pantas menyampaikan.
Tak kan bisa menggambarkan yang kurasakan.

Tanpa membuat segalanya menyakitkan atau mempermainkan kesabaran.

-April

Mengutip Sajak Falla

Jika suatu hari km merasa dadamu hangat,
sentuhlah..
Itu doaku, agar km selalu merasa tenang.
Tuhan sedang merangkulmu,
tersebut namamu dalam setiap sujudku..

Untuk kamu yg (selalu) aku cintai dr jauh..
Aku disini. Masih ditempat yg sama.
Dengan rindu yg menumpuk, serta cinta yg tak kalah banyaknya..

Aku disini, menunggu sesuatu yg aku pun tak tau..
Tergugu kelu menyadari waktu.
Untukmu selalu ada rumah.
Di dalam sini.
Dalam hatiku, yg selalu tak pernah gagal utk km sentuh..

Aku mencintaimu dalam lemahku.
Terlebih dengan kebodohanku..

-April

Kepada Kamu yang Aku Cintai dari Jauh

Jika suatu hari kamu rindu dan ragaku terlalu jauh untuk kamu gapai,
berdoalah..
Agar aku dikuatkan, atau kamu diberikan rezeki berlebih untuk menemuiku.

Jika suatu hari kamu merasa tersisihkan karena semua kesibukanku,
mengertilah..
Aku disini berusaha, agar kelak kita bisa bersama dan kita tak perlu bekerja terlalu keras seperti ini, untuk membayar semua waktu saat kita terpisah seperti ini.

Jika suatu hari kamu tidak yakin akan semua yang kita jalani,
berusahalah..
Agar kita bisa diberikan jalan, atau setidaknya diberikan kemantapan hati untuk melalui apa yang sebenarnya begitu ganjil untuk dijalani. Mencintai dari jauh..

Jika suatu hari kamu membuka mata dan mendapati diriku tak ada disana,
bersabarlah..
Akan datang waktu, dimana jarak terjauh dari aku tak dapat melihatmu adalah ketika saling berpunggungan ketika tidur.

Jika suatu hari kamu mencari sosok untuk kamu rengkuh dengan erat dan sempurna,
cobalah tetap tenang..
Biarlah malaikat yang menjaga langkahmu, biarlah sayapnya menggenggammu erat dan membuatmu aman. Aku yakin, malaikat menyayangi mereka yang mencintai tanpa syarat.

Jika suatu hari kamu kebingungan menentukan langkah, sedangkan aku terlalu fana untuk bisa kamu andalkan,
Yakinilah..
Apapun jalan yang kamu ambil, selama untuk kebaikan kita bersama, aku disini akan tetap tersenyum, memberika suntikan semangat melalui setiap permintaanku kepada Tuhanku.

Jika suatu hari kamu merasa semua yang kita jalani tanpa tujuan,
Ingatlah..
Kita pernah memutuskan untuk bersama, saling jatuh cinta dan berharap pada mimpi yang pernah kita bangun. Berkomitmen menjalani semua, dan saling menjaga segala rasa.

Jika suatu hari kamu ingin mengakhiri ini semua,
renungkanlah..
ada kelelahan yang tak dapat kita sembunyikan dalam menjalaninya, tapi akan ada penyesalan yang terukir pasti dan juga tenaga yang terkuras habis apabila suatu saat nanti kita memutuskan berjalan sendiri.

Jika suatu hari kamu lelah,
Percayalah..
Aku masih disini, di tempat kita biasa bertemu, menunggumu datang untuk kembali bercengkrama, walau sesudahnya ada episode baru bernama rindu yang lebih hebat.

Jika suatu hari kamu merasa dadamu hangat,
peganglah..
Itu doaku, agar kamu selalu merasa tenang. Tuhan sedang menyentuhmu, karena pintaku dalam sujudku.


Untuk kamu yang kucintai dari jauh..
bersabarlah..
Aku disini.. Masih ditempat yang sama,
dengan rindu yang menumpuk,
dan cinta yang tak kalah banyaknya..
Aku disini, menunggumu pulang.
Karena kamu, sudah kubuatkan rumah.
Didalam sini.
dalam hatiku, yang selalu tak pernah gagal untuk kamu sentuh

-Falla

Minggu, 05 Januari 2014

Percakapan denganNya

Kali ini saat bahagia aku tdk akan meminta apa-apa padaMu Tuhan
Kali ini saat bahagia aku tidak akan berharap yg luar biasa
Kali ini saat aku bahagia aku hanya akan memasrahkannya
Aku berserah padaMu Tuhan
Aku titipkan hati yg tidak berdaya ini
Aku sandarkan jiwa yg kelelahan

Sebaris percakapan denganNya di solat malam kali ini kupanjatkan.
Sulit utk aku jelaskan atau deskripsikan. Pernah merasa ketakutan untuk gembira? :(
Aku merasakannya untuk sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan disini. Untuk sesuatu yang aku pun masih meraba pastinya. Untuk sesuatu yang aku punya ingin untuk memastikan tp tidak cukup punya keberanian untuk melakukan. Untuk sesuatu yang membuat aku kecewa tidak hanya sekali tapi tidak pernah menemukan alasan untuk pergi. Untuk sesuatu yg membuat aku menarik ulur kesimpulan. Untuk sesuatu yang membuat aku, sejujurnya, ketakutan.

Otakku mungkin tidak mempunyai kapasitas untuk memikirkan.
Perasaanku terlalu berkecamuk utk menimbang.
Karena itu aku memasrahkan padaMu segalanya tentang ini Tuhan.
Aku sudah tidak ingin bermain.
Untuk kesekian kali semenjak hari itu aku pasrahkan apa yg aku punya Tuhan. Begitupun dengan hari ini..

Mantapkanlah harapanku pada-Mu. Putuskanlah harapanku selain dari Engkau Tuhan. Agar aku tidak pernah berharap kepada sesiapapun selain Engkau.

the eyes

Because in fact eyes can never lie..